Minggu, 22 Januari 2012

– Repot memang jadi istri pelaut. Di kala sedang rindu “jangkar” suami, bapaknya anak-anak tak di rumah. Dan Ny. Septi, 40, (bukan nama sebenarnya) dari Sidoarjo (Jatim) ini menempuh cara lain, demenan dengan PIL. Tapi sial, baru saja selesai berbagi cinta langsung digerebek warga dan suami sendiri, Darno, 42 (bukan nama sebenarnya).

Kalau tidak kepepet, seyogyanya tidak menikah dengan pelaut. Dijamin akan sering kesepian, karena sering ditinggal berlayar. Dalam pelayaran suami mabuk laut, di rumah isrtri mabuk cinta. Tapi “saran” ini tak perlu digubris benar-benar. Sebab jika dipatuhi secara konsekuen, kan kasihan pelautnya, tidak diberi kesempatan untuk berkembang biak mengembangkan keturunan!

Ny. Septi warga Kahuripan Nirwana Village Kelurahan Sumput Sidoarjo, termasuk wanita yang menafikan “saran” gila ini. Bagi dia, tinggal bagaimana memenej rasa rindu itu. Maka ketika dia ditaksir seorang ABK (Anak Buah Kapal), langsung menerima saja. Yang penting suami setia kepada keluarga, dan tidak obral “jangkar” ke mana-mana. Sebab kata orang, pelaut itu setiap kali kapal bersandar, mesti melabuhkan cintanya di daerah pelacuran.

Selama ini Septi mampu menjaga konsensus. Sampai kemudian hadir seorang pemborong Mukarto, 40, yang dipercaya suami untuk merehab rumahnya. Terlalu sering ketemu dengan pemilik, keduanya menjadi akrab. Ternyata juragan pembangunan ini diam-diam naksir pada istri Mukarto yang memang lumayan cantik dan putih itu. Begitu mulai akrab, dia suka main colek dan melempar guyonan seronok.

Awalnya Septi bisa menepiskannya. Tapi lantaran serangan Mukarto nyaris tanpa jeda, dan dia sendiri sudah 4 bulan tidak ketemu “jangkar” suami, akhirnya hanyut juga. Mukarto yang kemarin-kemarin hanya bongkar genting rumah Septi, kini membongkar habis segala pakaian yang dikenakan istri Darno. Kelanjutannya bisa ditebak, mereka berhubungan intim bak suami istri. Sebentar-sebentar Septi mendesis-desis macam habis nyeplus lombok.

Rintihan misterius full tendensius tersebut menjadikan warga curiga. Maka mereka diam-diam lalu menginformasikan kelakuan istrinya. Nah, ketika Darno hendak kembali, penjebakan pun diatur. Maksudnya, meski pulang tapi sengaja dia tak memberitahukan pada istri. Darno ingin melihat “siaran langsung” bagaimana istrinya berselingkuh dengan Mukarto yang memang gombale mukiyo itu.

Dan ternyata benar. Malam berikutnya Darno mendengar sendiri bagaimana istrinya “kepedasan”. Selang beberapa menit penggerebekan dilakukan. Septi – Mukarto tertangkab basah sedang mandi bersama, sehabis bertanding antara hidup dan mati. Malam itu juga keduanya diserahkan ke Polres Sidoarjo. Dalam pemeriksaan keduanya mengaku sering bersetubuh bak suami istri. “Dia kesepian, aku membantu apa salahnya,” ujar Mukarto tanpa beban.
Surabaya - Malang betul yang dialami Nurul (bukan nama sebenarnya). Dia harus rela kehilangan kegadisannya oleh sepuluh pemuda yang terpengaruh minuman keras (miras).

Cerintanya, gadis 15 tahun itu sudah lama tinggal di jalan Kutisari, rumah budenya. Selama tinggal di rumah budenya, korban berkenalan dengan seorang pemuda bernama Tape di Pos Penjagaan, kawasan Kutisari.

Meski baru kenal Tape, Nurul sudah merasa dekat dengan Tape. Mereka pun janjian di dekat Pos Satpam Kutisari. Begitu sudah ketemu, korban yang saat itu sendirian langsung diajak keliling.

Ternyata, Nurul diajak di kawasan akses Tol dekat masjid Agung Surabaya. Begitu sampai dilokasi, korban kelahiran Mojokerto itu langsung diajak duduk bersama 10 pemuda yang berada dilokasi. Korban juga dicekoki miras.

Melihat kondisi korban sudah tak sadarkan diri, kesepuluh pemuda itu beramai-ramai menggilirnya. Syukurlah, ketika mereka sedang antre, perbuatannya terpergok polisi yang saat itu sedang berpatroli.

Sayangnya, polisi berhasil menangkap hanya dua orang tersangka yakni Rio Agustiawan (18) warga Pagesangan, Jonathan (21) tinggal di kawasan Menanggal. Sementara sisanya berhasil melarikan diri.

"kita hanya berhasil menangkap dua saja. Karena, saat menangkap anggota kita mengetahui disemak-semak kok banyak pemuda," ujar Kapolsek Gayungan AKP Heriyanto, Jumat (6/2).

Karena, lokasi kejadiannya merupakan perbatasan antara Sidoarjo dengan Surabaya, maka perkaranya diserahkan ke Polsek Taman. "Kita serahkan kasus tersebut ke Polsek Taman, karena lokasi kejadiannya masih ikut wilayah Polsek Taman," ujar perwira tiga balok tersebut. [beritajatim.com/ana]

&&&&&
Tag : Cerita Dewasa terbaru Cerita Saru Gadis Berjilbab Diperkosa 10 PemudaCerita Saru Gadis Berjilbab Diperkosa 10 Pemuda| Kisah Birahi terbaru Cerita Saru Gadis Berjilbab Diperkosa 10 Pemuda| Cerita Seks terbaru | Cerita Porno terbaru Cerita Saru Gadis Berjilbab Diperkosa 10 Pemuda|Cerita Dewasa Cerita Saru Gadis Berjilbab Diperkosa 10 Pemuda

ENAKAN mana, lelaki “senior” dengan redaktur senior? Redaktur senior, masih terima gaji meski tak masuk tiap hari. Tapi kalau lelaki ‘senior”, masuk tiap hari ke kamar bini orang, ya digebuki! Dan inilah nasib Darsiman, 39,(bukan nama sebenarnya) warga Indramayu (Jabar), karena kepergok menyetubuhi bini Idrus, 37,(bukan nama sebenarnya) langsung dihajar dan diarak telanjang!

Awalnya, kata senior mengandung pengertian: lebih lama, lebih pengalaman. Tapi sesuai dengan tuntutan era gombalisasi, kata senior berubah makna sebagai: senang istri orang. Maka jangan bangga dulu bila disebut “senior”. Jangan-jangan itu bukan sebagai penghormatan, tapi malah pembunuhan karakter. Jika sejatinya tak seperti itu, boleh saja marah. Tapi jika aslinya lebih dari itu, beruntung hanya dibunuh karakternya.

Kalau si Darsiman dari Indramayu ini, sungguh “senior” yang asli. Karena berulang kali masuk kamar Ratih, 29, (bukan nama sebenarnya) ini Idrus tetangga sendiri. Di kala pihak yang berkompeten tak di rumah, diam-diam dia masuk ke kamar Ratih, dan terjadilah kemudian hubungan intim bak suami istri. Padahal Idrus si pemilik rumah memang sudah lama tak pulang, sehinga makin sering saja Darsiman menggauli bini orang.

Rumah tangga Ratih – Idrus memang sudah lama tidak harmonis, karena mereka memang juga belum pernah sampai Harmoni, Jakarta. Apa yang menjadi penyebabnya, tak pernah jelas. Yang pasti, sudah lebih dari 6 bulan Idrus meninggalkan tempat tinggalnya di Dusun Kedung Waru, Desa Drunten Wetan, Kecamatan Gabuswetan. Jarang sekali dia mengunjungi istrinya, baik itu dalam rangka setor benggol maupun bonggol.

Ratih sebagai wanita muda yang masih enerjik, sudah barang tentu merasa kedinginan “aset” miliknya distatusquokan begitu lama. Lalu munculah sosok Darsiman, lelaki tetangga yang ternyata selama ini menjadi pengamat wanita. Dia yang sudah lama ada minat pada Ratih, seakan memperoleh peluang emas melihat Idrus jarang sekali pulang ke rumah. Bahkan doa Darsiman selanjutnya, mendingan suami Ratih ini jadi Bang Toyib saja, yang tiga kali lebaran tak ingat anak istri.

Lelaki “senior” penuh bakat ini segera mendekati Ratih. Karena memang sudah lama kesepian, gayung pun segera bersambut. Bila sudah terjadi koalisi, apa lagi kelanjutannya jika bukan “eksekusi”? Maka Ratih – Darsiman pun malam itu menggelar aksi mesum perdananya. Praktek simbiosis mutualis (saling memberi dan menerima) itu berlangsung dengan khidmat dan memuaskan, dan sejak itu kegiatan tersebut menjadi sebuah rutinitas. Jika situasinya kondusif, Darsiman pasti “tune up” di kamar Ratih.

Keasyikan menjadi lelaki “senior”, Darsiman lama-lama kehilangan kewaspadaan nasionalnya. Nah, di saat keduanya bergulat antara hidup dan mati dalam kamar, eh……, unclug unclug Idrus masuk rumah. Alangkah kagetnya dia begitu melihat istrinya digituin lelaki tetangganya. Kontan dia berteriak maling, sambil terus menghajar Darsiman yang sedang ketanggungan. Tetangga pun segera berdatangan. Awalnya mereka berusaha melerai, tapi begitu tahu duduk persoalannya, langsung ikutan sekalian menggebui Darsiman.

Dalam kondisi babak belur dan bugil, lelaki “senior” itu diarak ke kantor polisi Polsek Gabuswetan. Karena luka-lukanya cukup serius dia dilarikan ke RS Bayangkara. Sedangkan Idrus kini masih dalam pemeriksaan. Sebab meski dia membela kehormatan keluarga, orang tetap dilarang main hakim sendiri. Karena bagaimana pun juga, hukum harus ditegakkan.
Janda Muda Bergairah

– Musibah seseorang, kadang jadi berkah bagi yang lain. Misalnya Makmun, 40 (bukan nama sebenarnya), dari Ponorogo (Jatim) ini. Saat Ny. Anis, 35 (bukan nama sebenarnya), tetangganya kesripahan (ditinggal mati) suami, itu kan musibah. Tapi perkembangan selanjutnya, justru “berkah” bagi Makmun. Soalnya, janda penuh gairah itu kemudian menawarkan sejuta kenikmatan baginya.

Setiap nasihat perkawinan disampaikan pada walimahan, pastilah dikatakan bahwa pasangan pengantin itu menjadi keluarga sakinah, guyub rukun hingga kaken-ninen (kakek nenek), Banyak yang tercapai, tapi banyak pula yang tak kesampaian. Bisa karena perceraian, dapat pula karena mati lebih cepat daripada pasangan tersebut. Otomatis, pasangan yang ditinggalkan akan menyandang status baru, kalau bukan janda ya duda.

Ny. Anis adalah pasangan yang apes dari Desa Beton, Kecamatan Siman, Ponorogo. Baru dua pelita membangun rumahtangga, sang suami dipanggil Sang Khalik. Diapun menyandang status janda muda, dengan “warisan” tiga anak yang masih kecil-kecil. Untung saja almarhum suami seorang PNS, sehingga ada dana pensiun untuk menunjang kehidupan keluarga. Di samping itu, Ny. Anis memang wanita ulet, karena selama ini dia juga punya usaha sampingan.

Ditinggal mati sekian lama, secara ekonomi tidak masalah. Maksudnya, untuk urusan perut sudah teratasi dengan mudah. Tapi yang di bawah perut, inilah yang musykil dan bikin pusing. Saat ada suami, selalu surplus, karena tanpa minta pun selalu dipasok terus. Tapi sekarang? Untuk menikah lagi, sudah kurang peminat. Maklumlah, menikah dengan janda beranak tiga, itu sangat bertentangan dengan prinsip Kantor Pegadaian: mengatasi masalah tapi malah bikin masalah.

Anis sangat menyadari akan posisinya, maka dia tidak terlalu ngaya. Kalau jodoh, takkan lari ke mana-mana. Dia juga tak mau bahwa rumahtangga jilid duanya hanya membahagiakan diri sendiri, tapi menyengsarakan bagi anak-anaknya. Soalnya kan tak banyak lelaki yang butuh emaknya juga perhatian sama anaknya. Mayoritas, ibunya digoyang, anaknya disingkang-singkang (dinistakan).

Adalah Makmun, tetangga depan rumah Ny. Anis. Sebetulnya dia sudah lama jadi pemerhati wanita ini. Ingin sebenarnya menjalin hubungan lebih dalam, sukur-sukur bisa “mendalami”, tapi terhalang oleh status wanita itu, juga status dirinya. Kala itu Anis kan masih punya suami, dan Makmun sendiri juga guru madrasah. Masak guru sekolah agama kok terlibat kasus senior (senang istri orang).

Begitu suami Anis meninggal, rasanya “tembok berlin” itu sudah runtuh. Pelan tapi pasti, diam-diam Makmun mulai mendekati janda depan rumah dalam rangka “pendalaman”. Soal status guru madrasah ibtidaiyah, namanya baru kena godaan setan, apa salahnya? Maka lobi-lobi politik mulai dilancarkan, agar koalisi bersama Ny. Anis bisa dibangun sampai 2014, dan dilanjutkan dengan eksekusi.

Ny. Anis dengan cepat menangkap aspirasi urusan bawah lelaki tetangganya. Karena selama ini sudah demikian tersiksa menahan gairah, pertimbangan etika dan moral jadi ternafikan. Maka ketika Makmun main ke rumahnya di malam hari disambut dengan gembira. Dan ketika anak-anak sudah tidur, mereka pun “main” bak layaknya suami istri. “Gersang tapi damai,” kata Makmun setelah “entuk-entukan” dari rumah si janda. Maklum, ibarat sawah Ny. Anis kan sudah lama tak dicangkul.

Aktivitas guru madrasah di rumah Ny. Anis lama-lama tercium tetangga. Maka beberapa malam lalu, saat keduanya sedang “ketanggungan” langsung digerebek. Tak ampun lagi keduanya diarak menuju Balai Desa. Warga mendesak Pak Kades agar mengusir keduanya dari desa itu, agar tidak mengotori kampung. Beruntung, sebelum warga bertindak anarkis pada Makmun – Anis, polisi datang dan membawa mereka ke Polres Ponorogo.

Sabtu, 24 September 2011

Menikmati Istri Rais

Kenalkan nama saya Basri, usia 41 tahun, berat badan 57 kg, rambut hitam lurus dengan warna kulit antara kehitaman dan kemerahan. Sejak kecil saa tergolong pendiam, kurang pergaulan dan pengalaman. Saya berasal dari keluarga yang hidup sederhana di suatu desa agak terpencil kurang lebih 3 km dari ibu kota kecamatanku. Saya dibesarkan oleh kedua orangtuaku dengan 5 saudara perempuanku. Jujur saja saya adalah suku B, yang ingin mengungkapkan pengalaman hidupku yang tergolong aneh seperti halnya teman-teman lainnya melalui cerita porno di internet.

Singkat cerita, setelah saya menikah dengan seorang perempuan pilihan orangtuaku, saya mencoba hidup mandiri bersama istri sebagai bentuk rasa tanggungjawab saya sebagai suami dan kepala rumahtangga, meskipun rasa cintaku pada istriku tersebut belum mendalam, namun tetap saya coba menerima kenyataan ini siapa tahu di kemudian hari saya kami bisa saling mencintai secara penuh, lagi pula memang saya belum pernah sama sekali jatuh cinta pada wanita manapun sebelumnya.
Kami coba mengadu nasib di kota Kabupatenku dengan menyewa rumah yang sederhana. Beberapa bidang usaha saya coba tekuni agar dapat menanggulangi keperluan hidup kami sehari-hari, namun hingga kami mempunyai 3 orang anak, nasib kami tetap belum banyak berubah. Kami masih hidup pas-pasan dan bahkan harapanku semula untuk mempertebal kecintaanku terhadap istriku malah justru semakin merosot saja. Untung saja, saya orangnya pemalu dan sedikit mampu bersabar serta terbiasa dalam penderitaan, sehingga perasaanku itu tidak pernah diketahui oleh siapapun termasuk kedua orangtua dan saudara-saudaraku.
Entah pengaruh setan dari mana, suatu waktu tepatnya Bulan Oktober 2003 aku sempatkan diri berkunjung ke rumah teman lamaku sewaktu kami sama-sama di SMA dulu. Sebut saja namanya Rais. Dia baru saja pulang dari Kalimantan bersama dengan istrinya, yang belakangan saya ketahui kalau istrinya itu adalah anak majikannya sewaktu dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di sana. Mereka juga melangsungkan perkawinan bukan atas dasar saling mencintai, melainkan atas dasar jasa dan balas budi.
Sekitar pukul 17.00 sore, saya sudah tiba di rumah Rais dengan naik ojek yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah kontrakan kami. Merekapun masih tinggal di rumah kontrakan, namun agak besar dibanding rumah yang kami kontrak. Maklum mereka sedikit membawa modal dengan harapan membuka usaha baru di kota Kabupaten kami. Setelah mengamati tanda-tanda yang telah diberitahukan Rais ketika kami ketemu di pasar sentral kota kami, saya yakin tidak salah lagi, lalu saya masuk mendekati pintu rumah itu, ternyata dalam keadaan tertutup.
“Dog.. Dog.. Dog.. Permisi ada orang di rumah” kalimat penghormatan yang saya ucapkan selama 3 kali berturut-turut sambil mengetuk-ngetuk pintunya, namun tetap tidak ada jawaban dari dalam. Saya lalu mencoba mendorong dari luar, ternyata pintunya terkunci dari dalam, sehingga saya yakin pasti ada orang di dalam rumah itu. Hanya saja saya masih ragu apakah rumah yang saya ketuk pintunya itu betul adalah rumah Rais atau bukan. Saya tetap berusaha untuk memastikannya. Setelah duduk sejenak di atas kursi yang ada di depan pintu, saya coba lagi ketuk-ketuk pintunya, namun tetap tidak ada tanda-tanda jawaban dari dalam. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba mengintip dari samping rumah. Melalui sela-sela jendela di samping rumahnya itu, saya sekilas melihat ada kilatan cahaya dalam ruangan tamu, tapi saya belum mengetahui dari mana sumber kilatan cahaya itu. Saya lalu bergeser ke jendela yang satunya dan ternyata saya sempat menyaksikan sepotong tubuh tergeletak tanpa busana dari sebatas pinggul sampai ujung kaki. Entah potongan tubuh laki-laki atau wanita, tapi tampak putih mulus seperti kulit wanita.
Dalam keadaan biji mataku tetap kujepitkan pada sela jendela itu untuk melihat lebih jelas lagi keadaan dalam rumah itu, dibenak saya muncul tanda tanya apa itu tubuh istrinya Rais atau Rais sendiri atau orang lain. Apa orang itu tertidur pula sehingga tersingkap busananya atau memang sengaja telanjang bulat. Apa ia sedang menyaksikan acara TV atau sedang memutar VCD porno, sebab sedikit terdengar ada suara TV seolah film yang diputar. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu mengganggu pikiranku sampai akhirnya aku kembali ke depan pintu semula dan mencoba mengetuknya kembali. Namun baru saja sekali saya ketuk, pintunya tiba-tiba terbuka lebar, sehingga aku sedikit kaget dan lebih kaget lagi setelah menyaksikan bahwa yang berdiri di depan pintu adalah seorang wanita muda dan cantik dengan pakaian sedikit terbuka karena tubuhnya hanya ditutupi kain sarung. Itupun hanya bagian bawahnya saja.
“Selamat siang,” kembali saya ulangi kalimat penghormatan itu.
“Ya, siang,” jawabnya sambil menatap wajah saya seolah malu, takut dan kaget.
“Dari mana Pak dan cari siapa,” tanya wanita itu.
“Maaf dik, numpang tanya, apa betul ini rumah Rais,” tanya saya.
“Betul sekali pak, dari mana yah?” tanya wanita itu lemah lembut.
“Saya tinggal tidak jauh dari sini dik, saya ingin ketemu Rais. Beliau adalah teman lama saya sewaktu kami sama-sama duduk di SMA dulu,” lanjut saya sambil menyodorkan tangan saya untuk menyalaminya. Wanita itu mebalasnya dan tangannya terasa lembut sekali namun sedikit hangat.
“Oh, yah, syukur kalau begitu. Ternyata ia punya teman lama di sini dan ia tak pernah ceritakan padaku,” ucapannya sambil mempersilahkanku masuk. Sayapun langsung duduk di atas kursi plastik yang ada di ruang tamunya sambil memperhatikan keadaan dalam rumah itu, termasuk letak tempat tidur dan TVnya guna mencocokkan dugaanku sewaktu mengintip tadi
Setelah saya duduk, saya berniat menanyakan hubungannya dengan Rais, tapi ia nampak buru-buru masuk ke dalam, entah ia mau berpakaian atau mengambil suatu hidangan. Hanya berselang beberapa saat, wanita itu sudah keluar kembali dalam keadaan berpakaian setelah tadinya tidak memakai baju, bahkan ia membawa secangkir kopi dan kue lalu diletakkan di atas meja lalu mempersilahkanku mencicipinya sambil tersenyum.
“Maaf dik, kalau boleh saya tanya, apa adik ini saudara dengan Rais?” tanyaku penuh kekhawatiran kalau-kalau ia tersinggung, meskipun saya sejak tadi menduga kalau wanita itu adalah istri Rais.
“Saya kebetulan istrinya pak. Sejak 3 tahun lalu saya melangsungkan pernikahan di Kalimantan, namun Tuhan belum mengaruniai seorang anak,” jawabnya dengan jujur, bahkan sempat ia cerita panjang lebar mengenai latar belakang perkawinannya, asal usulnya dan tujuannya ke Kota ini.
Setelah saya menyimak ulasannya mengenai dirinya dan kehidupannya bersama Rais, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa wanita itu adalah suku di Kalimantan yang asal usul keturunannya juga berasal dari suku di Sulawesi. Ia kawin dengan Rais atas dasar jasa-jasa dan budi baik mereka tanpa didasari rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam, seperti halnya yang menimpa keluarga saya. Ia tetap berusaha dan berjuang untuk menggali nilai-nilai cinta yang ada pada mereka berdua siapa tahu kelak bisa dibangun. Anehnya, meskipun kami baru ketemu, namun ia seolah ingin membeberkan segala keadaan hidup yang dialaminya bersama suami selama ini, bahkan terkesan kami akrab sekali, saling menukar pengalaman rahasia rumah tangga tanpa ada yang kami tutup-tupi. Lebih heran lagi, selaku orang pendiam dan kurang pergaulan, saya justru seolah menemukan diriku yang sebenarnya di rumah itu. Karena senang, bahagia dan asyiknya perbincangan kami berdua, sampai-sampai saya hampir lupa menanyakan ke mana suaminya saat ini. Setelah kami saling memahami kepribadian, maka akhirnya sayapun menanyakan Rais (suaminya itu).
“Oh yah, hampir lupa, ke mana Rais sekarang ini, kok dari tadi tidak kelihatan?” tanyaku sambil menyelidiki semua sudut rumah itu.
“Kebetulan ia pulang kampung untuk mengambil beras dari hasil panen orangtuanya tadi pagi, tapi katanya ia tidak bermalam kok, mungkin sebentar lagi ia datang. Tunggu saja sebentar,” jawabnya seolah tidak menghendaki saya pulang dengan cepat hanya karena Rais tidak di rumah.
“Kalau ke kampung biasanya jam berapa tiba di sini,” tanyaku lebih lanjut.
“Sekitar jam 8.00 atau 9.00 malam,” jawabnya sambil menoleh ke jam dinding yang tergantung dalam ruangan itu. Padahal saat ini tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 7.00 malam.
Tak lama setelah itu, ia nampaknya buru-buru masuk ke ruang dapur, mungkin ia mau menyiapkan makan malam, tapi saya teriak dari luar kalau saya baru saja makan di rumah dan melarangnya ia repot-repot menyiapkan makan malam. Tapi ia tetap menyalakan kompornya lalu memasak seolah tak menginginkan aku kembali dengan cepat. Tak lama sesudah itu, iapun kembali duduk di depan saya melanjutkan perbincangannya. Sayapun tak kehabisan bahan untuk menemaninya. Mulai dari soal-soal pengalaman kami di kampung sewaktu kecil hingga soal rumah tangga kami masing-masing.
Karena nampaknya kami saling terbuka, maka sayapun berani menanyakan tentang apa yang dikerjakannya tadi, sampai lama sekali baru dibukakan pintu tanpa saya beritahu kalau saya mengintipnya tadi dari selah jendela. Kadang ia menatapku lalu tersenyum seolah ada sesuatu berita gembira yang ingin disampaikan padaku.
“Jadi bapak ini lama mengetuk pintu dan menunggu di luar tadi?” tanyanya sambil tertawa.
“Sekitar 30 menit barangkali, bahkan hampir saya pulang, tapi untung saya coba kembali mengetuk pintunya dengan keras,” jawabku terus terang.
“Ha.. Ha.. Ha.. Saya ketiduran sewaktu nonton acara TV tadi,” katanya dengan jujur sambil tertawa terbahak-bahak.
“Tapi bapak tidak sampai mengintip di samping rumah kan? Maklum kalau saya tertidur biasanya terbuka pakaianku tanpa terasa,” tanyanya seolah mencurigaiku tadi. Dalam hati saya jangan-jangan ia sempat melihat dan merasa diintip tadi, tapi saya tidak boleh bertingkah yang mencurigakan.
“Ti.. Ti.. Dak mungkin saya lakukan itu dik, tapi emangnya kalau saya ngintip kenapa?” kataku terbata-bata, maklum saya tidak biasa bohong.
“Tidak masalah, cuma itu tadi, saya kalau tidur jarang pakai busana, terasa panas. Tapi perasaan saya mengatakan kalau ada orang tadi yang mengintipku lewat jendela sewaktu aku tidur. Makanya saya terbangun bersamaan dengan ketukan pintu bapak tadi,” ulasnya curiga namun tetap ia ketawa-ketawa sambil memandangiku.
“M.. Mmaaf dik, sejujurnya saya sempat mengintip lewat sela jendela tadi berhubung saya terlalu lama mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Jadi saya mengintip hanya untuk memastikan apa ada atau tidak ada orang di dalam tadi. Saya tidak punya maksud apa-apa,” kataku dengan jujur, siapa tahu ia betul melihatku tadi, aku bisa dikatakan pembohong.
“Jadi apa yang bapak lihat tadi sewaktu mengintip ke dalam? Apa bapak sempat melihatku di atas tempat tidur dengan telanjang bulat?” tanyanya penuh selidik, meskipun ia masih tetap senyum-senyum.
“Saya tidak sempat melihat apa-apa di dalam kecuali hanya kilatan cahaya TV dan sepotong kaki,” tegasku sekali lagi dengan terus terang.
“Tidak apa-apa, saya percaya ucapan bapak saja. Lagi pula sekiranya bapak melihatku dalam keadaan tanpa busana, bapak pasti tidak heran, dan bukan soal baru bagi bapak, karena apa yang ada dalam tubuh saya tentu sama dengan milik istri bapak, yah khan?” ulasnya penuh canda. Lalu ia berlari kecil masuk ke ruang dapur untuk memastikan apa nasi yang dimasaknya sudah matang atau belum.
Waktu di jam dinding menunjukkan sudah pukul 8.00, namun Rais belum juga datang. Dalam hati kecilku, Jangan-jangan Rais mau bermalam di kampungnya, aku tidak mungkin bermalam berdua dengan istrinya di rumah ini. Saya lalu teriak minta pamit saja dengan alasan nanti besok saja ketemunya, tapi istri Rais berteriak melarangku dan katanya,
“Tunggu dulu pak, nasi yang saya masak buat bapak sudah matang. Kita makan bersama saja dulu, siapa tahu setelah makan Rais datang, khan belum juga larut malam, apalagi kita baru saja ketemu,” katanya penuh harap agar aku tetap menunggu dan mau makan malam bersama di rumahnya.
Tak lama kemudian, iapun keluar memanggilku masuk ke ruang dapur untuk menikmati hidangan malamnya. Sambil makan, kamipun terlibat pembicaraan yang santai dan penuh canda, sehingga tanpa terasa saya sempat menghabiskan dua piring nasi tanpa saya ingat lagi kalau tadi saya bilang sudah kenyang dan baru saja makan di rumah. Malu sendiri rasanya.
“Bapak ini nampaknya masih muda. Mungkin tidak tepat jika aku panggil bapak khan? Sebaiknya aku panggil kak, abang atau Mas saja,” ucapnya secara tiba-tiba ketika aku meneguk air minum, sehingga aku tidak sempat menghabiskan satu gelas karena terasa kenyang sekali. Apalagi saya mulai terayu atau tersanjung oleh seorang wanita muda yang baru saja kulihat sepotong tubuhnya yang mulus dan putih? Tidak, saya tidak boleh berpikir ke sana, apalagi wanita ini adalah istri teman lamaku, bahkan rasanya aku belum pernah berpikir macam-macam terhadap wanita lain sebelum ini. Aku kendalikan cepat pikiranku yang mulai miring. Siapa tahu ada setan yang memanfaatkannya.
“Bolehlah, apa saja panggilannya terhadapku saya terima semua, asalkan tidak mengejekku. Hitung-hitung sebagai panggilan adik sendiri,” jawabku memberikan kebebasan.
“Terima kasih Kak atau Mas atas kesediaan dan keterbukaannya” balasnya.
Setelah selesai makan, aku lalu berjalan keluar sambil memandangi sudut-sudut ruangannya dan aku sempat mengalihkan perhatianku ke dalam kamar tidurnya di mana aku melihat tubuh terbaring tanpa busana tadi. Ternyata betul, wanita itulah tadi yang berbaring di atas tempat tidur itu, yang di depannya ada sebuah TV color kira-kira 21 inc. Jantungku tiba-tiba berdebar ketika aku melihat sebuah celana color tergeletak di sudut tempat tidur itu, sehingga aku sejenak membayangkan kalau wanita yang baru saja saya temani bicara dan makan bersama itu kemungkinan besar tidak pakai celana, apalagi yang saya lihat tadi mulai dari pinggul hingga ujung kaki tanpa busana. Namun pikiran itu saya coba buang jauh-jauh biar tidak mengganggu konsentrasiku.
Setelah aku duduk kembali di kursi tamu semula, tiba-tiba aku mendengar suara TV dari dalam, apalagi acaranya kedengaran sekali kalau itu yang main adalah film Angling Dharma yaitu film kegemaranku. Aku tidak berani masuk nonton di kamar itu tanpa dipanggil, meskipun aku ingin sekali nonton film itu. Bersamaan dengan puncak keinginanku, tiba-tiba,
“Kak, suka nggak nonton filmnya Angling Dharma?” teriaknya dari dalam kamar tidurnya.
“Wah, itu film kesukaanku, tapi sayangnya TV-nya dalam kamar,” jawabku dengan cepat dan suara agak lantang.
“Masuk saja di sini kak, tidak apa-apa kok, lagi pula kita ini khan sudah seperti saudara dan sudah saling terbuka” katanya penuh harap.
Lalu saya bangkit dan masuk ke dalam kamar. Iapun persilahkan aku duduk di pinggir tempat tidur berdampingan dengannya. Aku agak malu dan takut rasanya, tapi juga mau sekali nonton film itu.
Awalnya kami biasa-biasa saja, hening dan serius nontonnya, tapi baru sekitar setengah jam acara itu berjalan, tiba-tiba ia menawarkan untuk nonton film dari VCD yang katanya lebih bagus dan lebih seru dari pada filmnya Angling Dharma, sehingga aku tidak menolaknya dan ingin juga menyaksikannya. Aku cemas dan khawatir kalau-kalau VCD yang ditawarkan itu bukan kesukaanku atau bukan yang kuharapkan.
Setelah ia masukkan kasetnya, iapun mundur dan kembali duduk tidak jauh dari tempat dudukku bahkan terkesan sedikit lebih rapat daripada sebelumnya. Gambarpun muncul dan terjadi perbincangan yang serius antara seorang pria dan seorang wanita Barat, sehingga aku tidak tahu maksud pembicaraan dalam film itu. Baru saja aku bermaksud meminta mengganti filmnya dengan film Angling Dharma tadi, tiba-tiba kedua insan dalam layar itu berpelukan dan berciuman, saling mengisap lidah, bercumbu rayu, menjilat mulai dari atas ke bawah, bahkan secara perlahan-lahan saling menelanjangi dan meraba, sampai akhirnya saya menatapnya dengan tajam sekali secara bergantian menjilati kemaluannya, yang membuat jantungku berdebar, tongkatku mulai tegang dan membesar, sekujur tubuhku gemetar dan berkeringat, lalu sedikit demi sedikit aku menoleh ke arah wanita disampingku yakni istri teman lamaku. Secara bersamaan iapun sempat menoleh ke arahku sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke layar. Tentu aku tidak mampu lagi membendung birahiku sebagai pria normal, namun aku tetap takut dan malu mengutarakan isi hatiku.
“Mas, pak, suka nggak filmnya? Kalau nggak suka, biar kumatikan saja,” tanyanya seolah memancingku ketika aku asyik menikmatinya.
“Iiyah, bolehlah, suka juga, kalau adik, memang sering nonton film gituan yah?” jawabku sedikit malu tapi mau dan suka sekali.
“Saya dari dulu sejak awal perkawinan kami, memang selalu putar film seperti itu, karena kami sama-sama menyukainya, lagi pula bisa menambah gairah sex kami dikala sulit memunculkannya, bahkan dapat menambah pengalaman berhubungan, syukur-syukur jika sebagian bisa dipraktekkan.
“Sungguh kami ketinggalan. Saya kurang pengalaman dalam hal itu, bahkan baru kali ini saya betul-betul bisa menyaksikan dengan tenang dan jelas film seperti itu. Apalagi istriku tidak suka nonton dan praktekkan macam-macam seperti di film itu,” keteranganku terus terang.
“Tapi kakak suka nonton dan permainan seperti itu khan?” tanyanya lagi.
“Suka sekali dan kelihatannya nikmat sekali yach,” kataku secara tegas.
“Jika istri kakak tidak suka dan tidak mau melakukan permainan seperti itu, bagaimana kalau aku tawarkan kerjasama untuk memperaktekkan hal seperti itu?” tanya istri teman lamaku secara tegas dan berani padaku sambil ia mendempetkan tubuhnya di tubuhku sehingga bisikannya terasa hangat nafasnya dipipiku.
Tanpa sempat lagi aku berfikir panjang, lalu aku mencoba merangkulnya sambil menganggukkan kepala pertanda setuju. Wanita itupun membalas pelukanku. Bahkan ia duluan mencium pipi dan bibirku, lalu ia masukkan lidahnya ke dalam mulutku sambil digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan, akupun membalasnya dengan lahap sekali. Aku memulai memasukkan tangan ke dalam bajunya mencari kedua payudaranya karena aku sama sekali sudah tidak mampu lagi menahan birahiku, lagi pula kedua benda kenyal itu saya sudah hafal tempatnya dan sudah sering memegangnya. Tapi kali ini, rasanya lain daripada yang lain, sedikit lebih mulus dan lebih keras dibanding milik istriku. Entah siapa yang membuka baju yang dikenakannya, tiba-tiba terbuka dengan lebar sehingga nampak kedua benda kenyal itu tergantung dengan menantang. Akupun memperaktekkan apa yang barusan kulihat dalam layar tadi yakni menjilat dan mengisap putingnya berkali-kali seolah aku mau mengeluarkan air dari dalamnya. Kadang kugigit sedikit dan kukunyah, namun wanita itu sedikit mendorong kepalaku sebagai tanda adanya rasa sakit.
Selama hidupku, baru kali ini aku melihat pemandangan yang indah sekali di antara kedua paha wanita itu. Karena tanpa kesulitan aku membuka sarung yang dikenakannya, langsung saja jatuh sendiri dan sesuai dugaanku semula ternyata memang tidak ada pelapis kemaluannya sama sekali sehingga aku sempat menatap sejenak kebersihan vagina wanita itu. Putih, mulus dan tanpa selembar bulupun tumbuh di atas gundukan itu membuat aku terpesona melihat dan merabanya, apalagi setelah aku memberanikan diri membuka kedua bibirnya dengan kedua tanganku, nampak benda kecil menonjol di antara kedua bibirnya dengan warna agak kemerahan. Ingin rasanya aku telan dan makan sekalian, untung bukan makanan, tapi sempat saya lahap dengan lidahku hingga sedalam-dalamnya sehingga wanita itu sedikit menjerit dan terengah-engah menahan rasa nikmatnya lidah saya, apalagi setelah aku menekannya dalam-dalam.
“Kak, aku buka saja semua pakaiannya yah, biar aku lebih leluasa menikmati seluruh tubuhmu,” pintanya sambil membuka satu persatu pakaian yang kukenakan hingga aku telanjang bulat. Bahkan ia nampaknya lebih tidak tahan lagi berlama-lama memandangnya. Ia langsung serobot saja dan menjilati sekujur tubuhku, namun jilatannya lebih lama pada biji pelerku, sehingga pinggulku bergerak-gerak dibuatnya sebagai tanda kegelian. Lalu disusul dengan memasukkan penisku ke mulutnya dan menggocoknya dengan cepat dan berulang-ulang, sampai-sampai terasa spermaku mau muncrat. Untung saya tarik keluar cepat, lalu membaringkan ke atas tempat tidurnya dengan kaki tetap menjulang ke lantai biar aku lebih mudah melihat, dan menjamahnya. Setelah ia terkulai lemas di atas tempat tidur, akupun mengangkanginya sambil berdiri di depan gundukkan itu dan perlahan aku masukkan ujung penisku ke dalam vaginanya lalu menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan maju dan mundur, akhirnya dapat masuk tanpa terlalu kesulitan.
“Dik, model yang bagaimana kita terapkan sekarang? Apa kita ikuti semua posisi yang ada di layar TV tadi,” tanyaku berbisik.
“Terserah kak, aku serahkan sepenuhnya tubuhku ini pada kakak, mana yang kakak anggap lebih nikmat dan lebih berkesan sepanjang hayat serta lebih memuaskan kakak,” katanya pasrah. Akupun meneruskan posisi tidur telentang tadi sambil aku berdiri menggocok terus, sehingga menimbulkan bunyi yang agak menambah gairah sexku.
“Ahh.. Uhh.. Ssstt.. Hmm.. Teeruus kak, enak sekali, gocok terus kakak, aku sangat menikmatinya,” demikian pintanya sambil terengah dan berdesis seperti bunyi jangkrik di dalam kamarnya itu.
“Dik, gimana kalau saya berbaring dan adik mengangkangiku, biar adik lebih leluasa goyangannya,” pintaku padanya.
“Aku ini sudah hampir memuncak dan sudah mulai lemas, tapi kalau itu permintaan kakak, bolehlah, aku masih bisa bertahan beberapa menit lagi,” jawabnya seolah ingin memuaskanku malam itu.
Tanpa kami rasakan dan pikirkan lagi suaminya kembali malam itu, apalagi setelah jam menunjukkan pukul 9.30 malam itu, aku terus berusaha menumpahkan segalanya dan betul-betul ingin menikmati pengalaman bersejarah ini bersama dengan istri teman lamaku itu. Namun sayangnya, karena keasyikan dan keseriusan kami dalam bersetubuh malam itu, sehingga baru sekitar 3 menit berjalan dengan posisi saya di bawah dan dia di atas memompa serta menggoyang kiri kanan pinggulnya, akhirnya spermakupun tumpah dalam rahimnya dan diapun kurasakan bergetar seluruh tubuhnya pertanda juga memuncak gairah sexnya. Setelah sama-sama puas, kami saling berciuman, berangkulan, berjilatan tubuh dan tidur terlentang hingga pagi.
Setelah kami terbangun hampir bersamaan di pagi hari, saya langsung lompat dari tempat tidur, tiba-tiba muncul rasa takut yang mengecam dan pikiranku sangat kalut tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Saya menyesal tapi ada keinginan untuk mengulanginya bersama dengan wanita itu. Untung malam itu suaminya tidak kembali dan kamipun berusaha masuk kamar mandi membersihkan diri. Walaupun terasa ada gairah baru lagi ingin mengulangi di dalam kamar mandi, namun rasa takutku lebih mengalahkan gairahku sehingga aku mengurungkan niatku itu dan langsung pamit dan sama-sama berjanji akan mengulanginya jika ada kesempatan. Saya keluar dari rumah tanpa ada orang lain yang melihatku sehingga saya yakin tidak ada yang mencurigaiku. Soal istriku di rumah, saya bisa buat alasan kalau saya ketemu dan bermalam bersama dengan sahabat lamaku, selesai.